Sifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم
|
1. Apabila seorang muslim hendak mengerjakan shalat, hendaklah ia
menghadap ke arah kiblat kemudian mengucapkan takbiratul ihram:
اللهُ أَكْبَر
"Allah
Maha Besar". Mengucapkan takbiratul
ihram tersebut adalah rukun shalat, tidak akan sah shalat seseorang tanpa
mengucapkannya. Dalilnya adalah hadits Nabi صلي الله عليه وسلم yang berbunyi:
إِذَا
قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ
فَكَبِّرْ
Apabila
engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu'-mu terlebih dahulu
kemudian menghadaplah ke arah kiblat, lalu ucapkanlah takbiratul ihram" (Muttafaqun 'alaihi).
Takbiratul ihram
tersebut harus diucapkan dengan lisan (bukan diucapkan di dalam hati-pent). Dan tidak disyaratkan harus mengeraskan suara ketika bertakbir.
2. Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu ketika
bertakbir dengan merapatkan jari-jemari tangannya, (lihat gambar no. 1)
Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar رضي الله عنهما ia berkata:
أَنَّ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ
مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّ كُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ
"Rasulullah
صلي الله عليه وسلم biasa mengangkat kedua
tangannya setentang bahu jika hendak memulai shalat, setiap kali bertakbir
untuk ruku' dan setiap kali bangkit dari ruku'nya" (Muttafaqun 'alaihi).
Atau
mengangkat kedua tangannya setentang telinga.
(Lihat gambar no. 2)
Berdasarkan hadits Malik
bin Al-Huwairits رضي الله عنه bahwa ia berkata:
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ
يَدَيْهِ حَتَّيْ يُحَاذِيْ بِهِمَا أُذُنَبِيْهِ
"Rasulullah
صلي الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya
setentang telinga setiap kali bertakbir (di dalam shalat)" (H.R Muslim)
Tangan kanan mengenggam pergelangan tangan kiri
3. Kemudian menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan tangan
kanan serta meletakkannya di atas dada (lihat gambar no. 3)
Berdasarkan hadits riwayat An-Nasa'i yang telah dinyatakan shahih oleh Syaikh
Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم hal 88.
Atau
meletakkan telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri atau lengan kiri
serta meletakkannya di atas dada (lihat gambar no. 4).
Berdasarkan hadits Waail
bin Hujur yang berbunyi:
فَكَبَّرَ-أيْ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَيْ
عَلَيْ ظَهْرِ كَفِّهِ الأَيْسَرَ وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ
"Lalu
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bertakbir (takbiratul ihram) kemudian meletakkan tangan kanannya
di utas telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri atau lengan kirinya (H.R Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam
kitab Shifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم hal 88)
Dan berdasarkan hadits Wail lainnya yang
berbunyi:
كَانَ يَضَعُهُمَا عَلَيْ
صَدْرِهِ
"Beliau
meletakkan kedua tangannya di atas dadanya."
(H.R Ibnu Khuzaimah dan
dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi
صلي الله عليه وسلم hal 88)
4. Mengarahkan pandangannya ketempat sujud. Berdasarkan hadits 'Aisyah
رضي الله عنها mengenai shifat shalat Nabi صلي الله عليه وسلم:
رضي الله عنها mengenai shifat shalat Nabi صلي الله عليه وسلم:
مَا خَلَّفَ بَصَرُهُ
مَوْضُعَ سُجُوْدَهُ
"Rasulullah
صلي الله عليه وسلم tidak mengalihkan pandangannya
dari tempat sujud (di dalam shalat)."
(H .R Al-Baihaqi dan dinyatakan shahih oleh
Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi
صلي الله عليه وسلم hal 88)
5. Kemudian membaca doa istiftah.
Hukumnya adalah sunnat. Doa istiftah sangat
banyak, di antaranya:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ
"Maha
Suci Engkau Yaa Allah, aku memuji-Mu, Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi
keagungan-Mu, Tiada ilaah (sesembahan yang berhak disembah) selain
Engkau." (H.R Abu Dawud dan
dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم hal 93)
Atau membaca doa
istiftah dibawah ini:
اَللَّهُمَّ
بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ
اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
"Yaa
Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau
menjauhkan antara timur dan barat. Yaa Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Yaa
Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan
embun." (H.R Al-Bukhari)
6. Kemudian mengucapkan doa isti
'adzah, yaitu mengucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Aku
berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."
Atau mengucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ
السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Aku
berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan
yang terkutuk."
Atau mengucapkan:
أَعُوذُ
بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ
وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"Aku
berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan
yang terkutuk, dari godaannya, kesombongannya dan bisikan tercelanya."
(Al-Hamzu adalah sejenis penyakit gila, an-nafkhu adalah kesombongan, an-naftsu adalah bisikan yang tercela).
7. Kemudian mengucapkan basmalah,
yaitu ucapan:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيمِ
"Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
8. Kemudian membaca surat
Al-Fatihah di setiap rakaat. Berdasarkan hadits Nabi صلي الله عليه وسلم yang berbunyi:
لاَصَلاَةَ
لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
"Tidak
sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah " (Muttafaqun 'Alahi)
Membaca Al-Fatihah ini
adalah rukun shalat. Tidak sah shalat tanpa membacanya.
Apabila ia belum hafal
surat Al-Fatihah, sebagai gantinya ia boleh membaca ayat-ayat lain yang dihafalnya.
Bila ternyata tidak ada satu ayatpun yang dihafalnya, hendaklah ia membaca:
سُبْحَانَ
اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ اللَّهُ اَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
"Maha
Suci Allah, segala puji hanya bagi-Nya semata, tidak ada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Dia, Maha Besar Allah, tiada daya dan tiada upaya
kecuali dari Allah." (H.R Abu Dawud dan
dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam kitab Shifat Shalat Nabi
صلي الله عليه وسلم hal 98)
Ia wajib segera belajar
menghafal surat Al-Fatihah.
9. Setelah membaca surat
Al-Fatihah, hendaklah ia membaca surat lain yang dihafalnya. Ia boleh membaca
satu surat secara utuh atau membaca beberapa ayat saja.
10.
Kemudian rukuk seraya mengucapkan takbir (Allahhu Akbar), dengan
mengangkat kedua tangannya setentang bahu atau telinga, seperti yang telah
dijelaskan di atas (lihat gambar no 1 dan 2). Ketika rukuk, hendaklah ia
meratakan punggungnya (lihat gambar no 5) dan merenggangkan jari-jemari
tangannya serta menempatkannya dengan baik pada lutut (lihat gambar no 6).
Hendaklah ia membaca doa
ruku':
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
"Maha
SuciRabb-ku Yang Maha Agung."
Wajib baginya
mengucapkan doa tersebut minimal sekali, lebih dari itu adalah sunnah
hukumnya.
Atau ia membaca doa
lainnya, seperti:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ
"Maha
Suci Engkau Yaa Allah, Rabb kami, dan Engkau Maha terpuji, Yaa Allah ampunilah
daku." (Muttafaqun 'alaihi)
Atau membaca:
سُبُّوحٌ
قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُوحِ
"Maha
Suci Engkau dan Maha Luhur (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak
bagi kebesaran-Mu) Rabb para Malaikat dan Ruh." (H.R Muslim)
11.
Kemudian bangkit dari rukuk seraya mengucapkan:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ
"Allah
Maha Mendengar terhadap hamba yang memuji-Nya."
Disunnatkan baginya
mengangkat kedua tangan sebagaimana pada waktu takbiratul ihram (lihat gambar 1
dan 2).
12.
Setelah tegak berdiri, hendaklah ia membaca doa i'tidal:
رَبَّنَا
لَكَ الْحَمْدُ
"Yaa
Rabb kami, segala puji bagi-Mu."
Atau membaca:
رَبَّنَا
وَلَكَ الْحَمْدُ
"Yaa
Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu."
Atau membaca:
اللَّهُمَّ
رَبَّنَا لَكَ
الْحَمْدُ
"Yaa
Rabb kami, segala puji bagi-Mu."
Atau membaca:
اللَّهُمَّ
رَبَّنَا وَلَكَ
الْحَمْدُ
"Yaa
Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu."
Setelah itu disunnahkan
membaca doa berikut ini:
مِلْءَ
السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ
الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدُ،لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا
مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
"Sepenuh
langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah
itu, Yaa Rabb yang layak dipuji dan diagungkan, dan apa yang berhak diucapkan
oleh seorang hamba, dan kami seluruhnya adalah hamba-Mu, Yaa Allah, tiada yang
kuasa mencegah apa yang Engkau anugrahkan, dan tiada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, Seorang yang memiliki
kehormatan tiada berguna untuk menolak ancaman dari-Mu, hanya dari-Mu sajalah
kehormatan itu." (H.R Muslim)
13.
Disunnahkan baginya bersedekap1 (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) dan meletakkannya di atas dada-nya sebagaimana yang dilakukannya ketika berdiri sebelum ruku' (lihat gambar no 3 dan 4).
14.
Kemudian sujud seraya mengucapkan "Allaahu akbar" (Allah
Maha Besar).
Hendaklah ia mendahulukan
kedua lututnya sebelum kedua tangannya ketika turun untuk sujud (lihat gambar
no 7). Berdasarkan hadits Wail bin Hujur رضي الله عنه bahwa
ia berkata:
رَأَيْتَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ
رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ
"Saya melihat
setiap kali Rasulullah sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua
tangannya." (Hadits Shahih
diriwayatkan oleh penulis-penulis kitab sunan).
atau menurut para ulama salaf, ketika mau bersujud, hendaknya mendahulukan tangan dahulu sebelum lutut.
15.
Hendaklah ia sujud dengan 7 anggota badannya, yaitu kedua kakinya,
kedua lututnya, kedua tangannya, dan kening beserta hidungnya.
Tidak diperbolehkan
mengangkat salah satu dari anggota sujud itu dari tempat sujudnya. Apabila ia
tidak sanggup untuk sujud disebabkan karena sakit, hendaklah ia merunduk
sedikit sekedar kemampuannya sehingga seperti sujud (lihat gambar no. 8).
Disunnahkan baginya
merenggangkan jarak antara lengan atas dan rusuknya ketika sujud (lihat
gambar no. 7d). Karena putih ketiak Rasulullah صلي
الله عليه وسلم kelihatan ketika beliau sujud (Mut-tafaqun
'alaihi). Kecuali jika mengganggu orang yang berada di sampingnya.
Disunnahkan baginya
merenggangkan jarak antara perut dan pahanya ketika sujud (lihat gambar 7d).
Disunnahkan juga
merenggangkan jarak antara kedua lututnya ketika sujud, yaitu tidak merapatkannya.
Berbeda dengan telapak kaki, yang harus dirapatkan.
Demikianlah yang
dilakukan Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam sujudnya beliau صلي الله عليه وسلم merapatkan tumitnya
ketika sujud.
(H.R Ibnu Khuzaimah dan
dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shifat Shalat Nabi
صلي الله عليه وسلم hal 42) - (lihat gambar 7d).
Tidak dibenarkan
baginya merebahkan kedua lengan tangannya di lantai ketika sujud
seperti pada gambar no. 9).
Berdasarkan sabda
Rasulullah صلي الله عليه وسلم:
لَا
يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ
"Janganlah
kamu merebahkan lengan tangan dilantai seperti anjing ketika sujud." (Muttafaqun ‘alaihi)
Namun dibolehkan
menyandarkan lengannya ke paha bila kelelahan karena sujud yang terlalu lama
(lihat gambar 10).
16.
Wajib baginya membaca
doa sujud minimal sekali:
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
"Maha
Suci Engkau wahai Rabb-ku lagi Maha Luhur."
Lebih dari sekali
hukumnya sunnah.
Dibolehkan baginya
membaca doa sujud yang lain, seperti:
سُبُّوحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ
الْمَلاَئِكَةِ وَالرُوحِ
"Maha
Suci Engkau dan Maha Luhur (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak
bagi kebesaran-Mu) Rabb para Malaikat dan Ruh." (H.R Muslim).
Atau membaca:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ
"Maha
Suci Engkau Yaa Allah, Rabb kami, dan Engkau Maha terpuji, Yaa Allah ampunilah
daku." (Muttafaqun 'alaihi)
17.
Kemudian bangkit dari
sujud seraya mengucapkan takbir "Allaahu Akbar" (Allah Maha Besar).
Lalu duduk di antara dua sujud dengan bertelekan di atas telapak kaki kiri dan
menegakkan telapak kaki kanan (lihat gambar no. 11).
18.
Wajib baginya membaca
doa duduk di antara dua sujud minimal sekali.
Yaitu:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ
"Ya
Allah, ampunilah aku"
Lebih dari sekali
hukumnya sunnah
Atau membaca doa yang
lain, di antaranya:
رَبِّ
اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ
"Yaa
Allah, aku memohon ke-pada-Mu ampunan, rahmat, petunjuk, dan berilah aku
kesehatan dan rezeki." (H.R Abu Dawud dan
dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shifat Shalat Nabi
صلي الله عليه وسلم hal 153)
19.
Hendaklah ia meletakkan
tangannya di atas paha dengan ujung-ujung jari tangan pada lututnya (lihat
gambar no 12).
Atau meletakkan tangan
kanan di atas lutut kanannya, serta tangan kiri di atas lutut kirinya,
seolah-olah menggenggamnya (lihat gambar no. 13).
20.
Lalu sujud yang kedua,
hendaklah ia melakukan sebagaimana yang dilakukannya pada sujud pertama.
21.
Kemudian bangkit dari
sujud untuk mengerjakan rakaat yang kedua dengan bertumpu pada kedua lututnya
(kebalikan dari gambar no 7) seraya mengucapkan "Allaahu Akbar"
(Allah Maha Besar).
sebelum berdiri untuk rakaat selanjutnya, hendaknya tangan menggenggam dan di tekan ke bumi.
sebelum berdiri untuk rakaat selanjutnya, hendaknya tangan menggenggam dan di tekan ke bumi.
22.
Lalu ia mengerjakan
rakaat kedua sebagaimana yang dikerjakannya pada rakaat pertama.
Hanya saja dia tidak
perlu membaca doa istiftah dan isti'adzah, karena ia telah membacanya pada
rakaat pertama.
23.
Kemudian di-akhir rakaat
kedua, hendaklah ia duduk untuk melakukan tasyahhud
awal sebagaimana cara duduk di antara dua sujud (iftirasy) (lihat
gambar no 11).
24.
Adapun posisi jari
kanannya adalah sebagai berikut: hendaklah ia menggenggam jari kelingking dan
jari manis dan menautkan jari tengah dengan ibu jari serta mengisyaratkan"
dengan jari telunjuk saat berdoa (yaitu setiap kali mengucapkan kalimat yang
mengandung doa ketika bertasyahud) (lihat gambar 14)
Atau menggenggam seluruh
jari kanannya serta mengisyaratkan2 dengan jari telunjuknya
saat berdoa (lihat gambar 15). Adapun tangan kirinya tetap diletakkan di atas
lutut kiri seolah menggenggamnya, atau boleh juga membentangkannya di atas
lutut kiri tanpa menggenggamnya (lihat gambar 14 dan 15, perhatikanlah posisi
tangan kirinya).
25.
Hendaklah ia membaca doa
tasyahhud sebagai berikut:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ
وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ
الصَّالِحِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
"Segala
pengagungan, kehormatan dan kebaikan adalah milik Allah semata, semoga
keselamatan tercurah atasmu wahai Nabi, juga anugrah dan berkah-Nya. Semoga
keselamatan juga tercurah atas kami dan atas segenap hamba Allah yang shalih.
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
26.
Apabila shalat tersebut
empat rakaat, seperti shalat zhuhur, ashar dan isya', hendaklah ia duduk untuk
melakukan tasyahud akhir (pada rakaat keempat) dengan bertawarruk yaitu
menegakkan/merebahkan telapak kaki kanan dan mengeluarkan telapak kaki kiri
dari bawah betis kaki kanan dengan menjadikan lantai sebagai tempat bertelekan
(lihat cara duduk pada gambar 16 dan 17).
Posisi tangan pada tasyahud akhir sama seperti
pada tasyahhud awal. Dan membaca doa tasyahud sebagaimana yang telah kami
cantumkan di atas, setelan itu membaca shalawat atas nabi sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Yaa
Allah, anugrahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah menganugerahkan shalawat atas Ibrahim dan keluarganya,
sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia. Yaa Allah, berka-hilah
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan
keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
27.
Setelah membaca shalawat atas nabi, hendaklah ia berdoa sebagai
berikut:
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ،وَ عَذَابِ الْقَبْر،ِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ
فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
"Yaa
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka jahannam, dari azab kubur,
dari fitnah (malapetaka) kehidupan dan kematian, dan dari fitnah (cobaan)
Al-Masih Ad-Dajjal." (Muttafaqun 'alahi)
28.
Kemudian berdoa kepada Allah dengan doa apa saja yang dikehendakinya
seperti doa:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي
عَلَى ذِكْرِكَ،وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَدَتِكَ
"Yaa
Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk senantiasa menyebut nama-Mu,
bersyukur kepada-Mu dan selalu beribadah yang baik untuk-Mu." (H.R Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shifat
Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم hal 347)
29.
Setelah itu memberikan
salam ke kanan dan ke kiri seraya mengucapkan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ
"Semoga
rahmat Allah tercurah kepadamu."
Copyright ©2009, 4 Ummat Muslim
1 Menurut Syaikh Al-Albani tidak disyari'atkan bersedekap saat
i'tidal cukup dengan meluruskannya saja (lihat Shifat
Shalat Nabi karangan Al-Albani)pent.
2 Menurut Syaikh Al-Albani selain mengisyaratkan juga
menggerak-gerakkannya (Lihat Shifat Shalat Nabi Sifat
Shalat Nabi صلي
الله عليه وسلم oleh Al-Albani)















Tidak ada komentar:
Posting Komentar